PENDEKATAN TERPADU BERBASIS APLIKASI PUPUK HAYATI MAJEMUK UNTUK PERBAIKAN KESUBURAN TANAH, EFISIENSI PEMUPUKAN, TOLERANSI TERHADAP HAMA-PENYAKIT DAN PRODUKSI

PADI PASANG SURUT DI KABUPATEN BANYUASIN

 

Suwandi 1)

Muhammad Amar 2)

Chandra Irsan 3)

 

Pusat Unggulan Riset Pengembangan Lahan Suboptimal

Graha Pertanian Program Pascasarjana Universitas Sriwijaya

Jalan Padang Selasa 524 Palembang 30139

Telepon: 0711-354222

e-mail: suwandi.saleh@gmail.com

 

 

Abstrak, Rendahnya produktivitas akibat rendahnya kesuburan tanah dan serangan hama-penyakit merupakan kendala utama budidaya padi di lahan pasang surut di Kabupaten Banyuasin. Penelitian ini menguji efektivitas pupuk hayati yang mengandung komunitas bakteri berguna dalam peningkatan pertumbuhan dan produksi padi pasang surut. Penelitian mencakup pengujian lapangan dan pengujian dalam pot. Pengujian lapangan terdiri dari pengujian pada padi ratoon dan padi gadu yang dilaksanakan di lahan sulfat masam di Desa Mulyasari, Kecamatan Tanjung Lago, Kabupaten  Bayuasin. Pengujian dalam pot menggunakan tanah dari sawah pengujian padi gadu serta diuji dengan varietas Inpari 10 dan Ciherang. Pada penelitian ini digunakan dua sediaan pupuk hayati, yaitu sediaan cair dari inokulan dorman dan sediaan ekstrak kompos yang mengandung inokulan aktif dari komunitas bakteri perombak kitin, bakteri perombak selulosa, dan bakteri pelarut fosfat. Hasil pengujian membuktikan bahwa produksi padi Varietas Ciherang dengan sistem ratoon dapat ditingkatkan sebesar 923-994 kg/Ha (65-67%) setelah sekali disemprot pupuk hayati dalam sediaan ekstrak kompos. Insidensi penyakit blas cenderung lebih rendah pada padi yang disemprot ekstrak kompos.  Analisis data produksi padi gadu tidak dapat dilaksanakan karena sawah gagal panen (puso) akibat serangan tikus. Tidak ditemukan perbedaan karakteristik kimia tanah dan populasi walang sangit antar petak percobaan padi gadu. Pada percobaan pot diperoleh peningkatan hasil secara signifikan (P < 0,05) setelah padi disemprot pupuk hayati. Produksi padi Varietas Inpari 10 dan Ciherang meningkat masing-masing 26  dan 51% setelah diaplikasi ekstrak kompos. Serangan penyakit hawar bulir cenderung lebih rendah pada tanaman yang diaplikasi pupuk hayati. Aplikasi pupuk hayati tidak berpengaruh terhadap serapan N oleh tanaman, tetapi signifikan meningkatkan serapan K. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa pupuk hayati majemuk terutama yang diaplikasikan dalam sediaan ekstrak kompos layak dianjurkan untuk meningkatkan produktivitas padi di lahan sulfat masam di daerah pasang surut.

 

Kata Kunci : tanah sulfat masam, komunitas mikroba berguna, ekstrak kompos.

 

 



Pendahuluan

Kabupaten Banyuasin merupakan kabupaten hasil pemekaran di provinsi Sumatera Selatan yang memiliki luas 11.832,99 km2. Sebagian besar wilayah Kabupaten Banyuasin merupakan dataran rendah pesisir yang terletak di bagian hilir aliran Sungai Musi dan Sungai Banyuasin. Wilayahnya pada umumnya berupa lahan basah yang terpengaruh pasang surut. Sehingga sebagian besar lahan tersebut dimanfaatkan untuk pertanian pangan lahan basah, khususnya persawahan pasang surut dengan total areal 168.914 hektar. Produktivitas padi di lahan pasang surut adalah berkisar dari 4-5 ton/Ha yang lebih rendah dari hasil di sawah irigasi yaitu 8 ton/Ha [11]. Rendahnya produktivitas padi di lahan pasang surut disebabkan oleh rendahnya kesuburan tanah, yang dicirikan oleh kahat hara terutama fosfat, kemasaman yang tinggi, keracunan alumunium, besi dan pirit [8]. Serangan penyakit terutama blas atau busuk leher malai serta serangan hama tikus dan walang sangit merupakan kendala utama budidaya padi pasang surut.

Perbaikan kesuburan lahan sulfat masam dapat dilakukan dengan ameliorasi menggunakan dolomit dan fosfat alam [8], bahan organik [9], dan bakteri penambat nitrogen seperti Azotobacter and Azospirillum [12]. Bakteri pelarut fosfat juga diketahui dapat melarutkan fosfat alam dan meningkatkan pertumbuhan padi [10].

Pengembangan produk untuk peningkatan produksi tanaman berkelanjutan telah dilakukan di Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya sejak tahun 2003 dengan melakukan invensi pupuk hayati majemuk. Pupuk hayati majemuk tersebut mengandung komunitas bakteri berguna dalam populasi berimbang yaitu bakteri perombak kitin (kitinolitik), bakteri perombak selulosa (selulolitik), dan bakteri pelarut fosfat; unsur hara terutama kalsium dan nitrat. Pupuk hayati ini dapat mengendalikan beragam penyakit, meningkatkan pertumbuhan tanaman, dan meningkatkan efisiensi pemupukan [4;13]. Agar supaya pupuk hayati majemuk ini dapat dianjurkan sebagai komponen budidaya padi pasang surut, diperlukan kajian efikasi produk dalam peningkatan pertumbuhan, perbaikan kesuburan tanah dan penekanan hama dan penyakit.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan dan hasil padi, karakteristik kimia tanah, populasi serangga hama dan serangan penyakit pada tanaman padi di tanah sawah pasang surut yang diaplikasi pupuk hayati majemuk.

 

Metode

Pengujian dilakukan pada tiga sistem budidaya padi, yaitu 1) pengujian lapangan pada padi ratoon, 2) pengujian lapangan pada padi gadu, dan 3) pengujian padi dalam pot. Pengujian lapangan dilakukan di Desa Mulyasari, Kecamatan Tanjung Lago, Kab. Banyuasin. Pengujian dalam pot menggunakan tanah sawah dari pengujian lapangan pada padi gadu. Pada penelitian ini digunakan dua sediaan pupuk hayati, yaitu sediaan cair dari inokulan dorman dan sediaan ekstrak kompos yang mengandung inokulan aktif. Sediaan cair inokulan dorman disiapkan sebagaimana deskripsi paten Suwandi [13] dan dikemas dalam botol plastik 1 liter yang dilabeli sebagai Biofitalik. Jika disimpan pada kondisi kamar, inokulan pupuk hayati dalam sediaan cair ini dapat stabil selama 5 tahun. Sediaan inokulan dalam ekstrak kompos dibuat dengan cara merendam campuran 10 liter pupuk kandang sapi, 2 kg pupuk NPK, 2 kg pupuk fosfat, dan 2 liter sediaan dorman (Biofitalik) dalam 200 liter air. Setelah fermentasi 4 hari, cairan rendaman disaring untuk mendapatkan  ekstrak kompos. Komunitas mikroba fungsional yaitu populasi bakteri kitinolitik, bakteri selulolitik dan bakteri pelarut fosfat ditelaah berdasarkan dinamika populasi pada sediaan inokulan dorman dan ekstrak kompos hasil fermentasi selama 2 dan 4 hari. Populasi bakteri kitinolitik dihitung dari koloni yang mendegradasi medium yang mengandung 0.5% koloid kitin (Coloidal Chitin Medium) [14]. Populasi bakteri selulolitik dihitung dari  koloni yang mendegradasi medium mengandung 0.2% karboksimetil selulosa yang ditunjukkan melalui pewarnaan menggunakan Congo red (Cellulose Congo Red Agar Medium) [3]. Populasi bakteri pelarut fosfat dihitung dari koloni yang mendegradasi medium mengandung 0.5 kalsium trifosfat (Pikovskaya medium) [7].

Pengujian lapangan pada padi ratoon. Pengujian lapangan pada padi ratoon dilakukan setelah 10 hari tanaman dipanen dengan cara menyemperot 1% inokulan dorman atau 50% ekstrak kompos dengan volume semprot 800 liter/ha. Sehari sebelum aplikasi pupuk hayati, tanaman dipupuk dengan 100 kg/Ha NPK Phonska dan 100 kg/Ha urea atau tidak dipupuk (petak kontrol).

Pengujian pada padi gadu. Aplikasi pupuk hayati pada padi gadu dilakukan 2 kali, yaitu saat tanaman berumur 2 dan  6 minggu setelah tanam dengan dengan volume semprot 800 liter/Ha. Pemupukan anorganik dilakukan dengan dua takaran yaitu takaran anjuran (300 kg/Ha NPK Phonska + 100 kg/Ha urea + 50 kg/Ha SP36) dan ¼ takaran anjuran.

Pengujian dalam pot. Pengujian dilakukan dengan perlakuan yang sama dengan percobaan padi gadu. Pot yang digunakan ialah pot tanah liat (gendok) dengan luas permukaan tanah 0,3423 m2 dan diisi dengan 10 liter tanah sawah pasang surut. Setiap pot ditanam dengan 3 anakan padi Varietas Inpari 10 dan varietas Ciherang berumur 2 minggu setelah tanam yang diambil dari sawah percobaan lapangan.

Pengamatan. Peubah pertumbuhan dan produksi yang diamati ialah berat gabah kering panen (GKP) per hektar atau berat gabah kering giling (GKG) per rumpun, jumlah anakan produktif per rumpun, total biomassa kering, jumlah bulir per malai, persentase bulir hampa, dan berat 1000 bulir.

Karakteristik kimia tanah diamati saat fase pengisian bulir. Analisis kimia tanah mencakup pH H2O, C organik, total N, P tersedia, ion yang dapat dipertukarkan (kation, K, Na, dan Al) serta kadar pirit (Fe2S).

Kesehatan tanaman yang dikaji berdasarkan pengamatan jenis dan tingkat intensitas atau kejadian (insidensi) serangan hama dan penyakit sejak tanam sampai panen.

 

Hasil dan pembahasan

Komunitas mikroba berguna dalam sediaan pupuk hayati. Pupuk hayati majemuk dalam sediaan inokulan dorman (Biofitalik) mengandung komunitas bakteri berguna dalam populasi berimbang, yaitu 4,9 × 108 spk/L bakteri kitinolitik, 7,1 × 108 spk/L bakteri selulolitik, dan 6,3 × 108 spk/L bakteri pelarut fosfat. Jika dibuat dalam sediaan ekstrak kompos, populasi mikroba berguna meningkat  menjadi lebih dari 10 kali lipat setelah difermentasi selama 4 hari (Gambar 1). Selain populasinya meningkat, aktifitas enzimatik mikroba berguna tersebut juga meningkat.


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 1. Dinamika kandungan mikroba fungsional pada sediaan pupuk hayati dalam bentuk inokulan dorman cair  atau setelah menjadi ekstrak kompos (kiri) serta aktivitas perombakan koloid kitin oleh bakteri kitinolitik (kanan atas), karbosimetil selulosa oleh bakteri selulolitik (kanan tengah) dan kalsium trifosfat oleh bakteri pelarut fosfat (kanan bawah) oleh mikroba pada ekstrak kompos.

 


Percobaan padi ratoon. Aplikasi pupuk hayati baik sebagai inokulan dorman (Biofitalik) atau inokulan aktif dalam ekstrak kompos secara signifikan meningkatkan hasil panen padi ratoon. Peningkatan hasil 923 kg GKP/Ha (67%) dicapai dengan aplikasi tunggal ektrak kompos.  Jika dikombinasikan dengan pupuk NPK dan urea, aplikasi ekstrak kompos meningkatkan hasil 994 kg GKP/Ha (65%). Secara keseluruhan,    padi ratoon yang diaplikasi kombinasi pupuk hayati dan pupuk anorganik menghasilkan malai lebih banyak dengan jumlah bulir yang juga lebih banyak serta lebih sedikit dengan bulir hampa. Insidensi blas leher malai juga cenderung lebih rendah pada petakan yang disemperot  ekstrak kompos baik yang dikombinasikan dengan pupuk anorganik maupun yang tidak dipupuk (Tabel 1).


Tabel 1. Produksi dan komponen produksi serta serangan blas leher padi ratoon di sawah pasang surut di Kabupaten Banyuasin setelah penyemperotan pupuk hayati majemuk

 

Perlakuan pemupukan dan pupuk hayati

Hasil (kg gabah kering panen/Ha)  (% kontrol)

Jumlah malai/m2

Jumlah bulir/ malai

% Bulir hampa

Insidensi blas leher (%)

Dipupuk NPK Phonska 100 kg/Ha dan urea 100 kg/Ha

Kontrol

1.533

225

52

25

5,8

Ekstrak kompos

2.527 (64)

270

66

23

5,2

Inokulan dorman

2.068 (34)

314

55

28

8,6

Tidak dipupuk

Kontrol

1.377

250

55

26

11,2

Ekstrak kompos

2.300 (67)

324

48

26

4,3

Inokulan dorman

1.420 (3)

249

48

25

7,6

 


Percobaan padi gadu. Percobaan dilakukan di sawah yang selama 3 tahun terakhir gagal panen akibat tingginya kandungan pirit, yaitu rata-rata 0,16%. Daun tanaman yang diaplikasi pupuk hayati majemuk nampak lebih hijau. Data produksi padi pada percobaan ini tidak berhasil diperoleh karena saat fase pembungaan seluruh tanaman percobaan diserang dan dimakan tikus. Serangga hama utama yang terdapat pada sawah uji adalah walang sangit. Tidak ditemukan perbedaan yang signifikan (P ≥ 0.05) antara populasi walang sangit pada petakan perlakuan pupuk hayati dibandingkan dengan petakan kontrol. Hasil analisis statistik terhadap tanah sawah yang diaplikasi pupuk hayati menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan (P ≥ 0,05) antara karakteristik kimia tanah yang diamati (Tabel 2).


 


 

 

 

Tabel 2. Karakteristik kimia tanah sawah (saat tanaman berumur 60 hari setelah tanam atau saat fase pembungaan) padi gadu di Desa Mulyasari Kecamatan Tanjung Lago Kabupaten Banyuasin yang diaplikasi pupuk hayati

Perlakuan pemupukan*

pH

C-organik

(%)

N-total

(%)

P tersedia (ppm)

Ion yang dapat dipertukarkan

(cmol/ kg)

K

Na

kation

Al

NPK (Kontrol)

4,4

12,1

0,58

16,90

0,26

1,45

33,35

1,45

NPK + Ekstrak kompos

4,4

8,3

0,41

24,08

0,29

2,16

21,75

1,24

¼NPK +  Ekstrak kompos

4,4

12,0

0,55

16,95

0,28

0,94

26,10

1,35

NPK + Inokulan dorman

4,2

14,0

0,70

13,80

0,32

1,41

31,90

1,17

¼NPK +  Inokulan dorman

4,5

10,5

0,48

29,90

0,32

1,59

23,20

0,95

 

*NPK = NPK dosis anjuran (300 kg NPK + 100 kg Urea + 50 kg SP36 per hektar), NPK + Ekstrak kompos = NPK dosis anjuran + Ekstrak kompos, ¼NPK + Ekstrak kompos = NPK  25% dosis anjuran + ekstrak kompos, NPK + Inokulan dorman = NPK dosis anjuran + Inokulan dorman, ¼NPK + Inokulan dorman = NPK  25% dosis anjuran +  Inokulan dorman.

 


Percobaan dalam pot. Pertumbuhan dan produksi padi yang ditanam pada tanah yang berasal dari sawah yang sama dengan sawah pada percobaan padi gadu secara signifikan meningkat setelah diaplikasi pupuk hayati. Hasil padi Varietas  Inpari 10 yang dipupuk dengan NPK dosis anjuran meningkat 26% setelah disemprot ekstrak kompos. Tidak ditemukan perbedaan signifikan (P≥0.05) dari jumlah anakan produktif, berat kering tanaman, dan berat 1000 bulir antara perlakuan ekstrak kompos dan kontrol.  Pengurangan takaran pupuk NPK menjadi 25% takaran anjuran menyebabkan penurunan hasil secara dratis, yang tidak dapat dipulihkan oleh aplikasi pupuk hayati (Tabel 3). Aplikasi pupuk hayati tidak berpengaruh secara signifikan terhadap serapan N, tetapi secara signifikan meningkatkan serapan K. Aplikasi pupuk hayati juga cenderung menekan  keparahan penyakit hawar bulir (Tabel 4).

Varietas Ciherang relatif lebih responsif terhadap perlakuan pupuk hayati, yang dibuktikan oleh peningkatan yang signifikan pada seluruh peubah pertumbuhan dan produksi yang diamati. Aplikasi ekstrak kompos meningkatkan 51% hasil dibandingkan kontrol. Pengurangan takaran pupuk menjadi  25% takaran anjuran pada Varietas Ciherang tidak mempengaruhi hasil tanaman yang diaplikasi pupuk hayati (Tabel 5).


 

Tabel 3. Pertumbuhan, produksi dan komponen produksi padi Varietas Inpari 10 yang ditanam pada tanah sulfat masam dalam pot setelah diaplikasi pupuk hayati

 

Perlakuan pemupukan*

Jumlah anakan produktif/rumpun

Hasil gabah kering giling     (g/rumpun)

Berat kering tanaman (g/rumpun)

Bobot 1000 bulir

(g)

NPK (Kontrol)

28 ab

35,0 bc

64,8 a

22,6 a

NPK + Ekstrak kompos

33 a

44,1 a

69,3 a

24,8 a

¼NPK +  Ekstrak kompos

17 bc

27,3 cd

54,2 a

25,0 a

NPK + Inokulan dorman

21 abc

36,9 ab

62,4 a

23,1 a

¼NPK +  Inokulan dorman

14 c

25,2 d

41,9 a

22,3 a


 

Tabel 4. Serapan hara dan serangan penyakit  pada padi Varietas Inpari 10 yang ditanam pada tanah sulfat masam dalam pot setelah diaplikasi pupuk hayati

 

Perlakuan pemupukan*

Serapan total N

(g/rumpun)

Serapan total P (g/rumpun)

Serapan total K (g/rumpun)

Keparahan hawar bulir (%)

NPK (Kontrol)

1,61 ab

0,35 a

0,13 c

15 a

NPK + Ekstrak kompos

1,75 a

0,25 b

0,43 b

13 ab

¼NPK +  Ekstrak kompos

1,11 c

0,28 c

0,34 b

12 ab

NPK + Inokulan dorman

1,66 ab

0,13 ab

0,56 a

13 ab

¼NPK +  Inokulan dorman

1,25 bc

0,23 b

0,08 c

12 b

 

 

Tabel 5. Pertumbuhan, produksi dan komponen produksi padi Varietas Ciherang yang ditanam pada tanah sulfat masam dalam pot setelah diaplikasi pupuk hayati

 

Perlakuan pemupukan*

Jumlah anakan produktif/rumpun

Hasil gabah kering giling     (g/rumpun)

Jumlah bulir/malai

Bobot 1000 bulir

(g)

NPK (Kontrol)

24

45,1

72

26,5

NPK + Ekstrak kompos

28

68,0

92

26,5

¼NPK +  Ekstrak kompos

20

44,9

90

26,0

NPK + Inokulan dorman

25

69,2

93

25,0

 


Pembahasan. Peningkatan hasil dan kualitas gabah setelah aplikasi ekstrak kompos pada padi Varietas Ciherang dengan sistem ratoon membuktikan bahwa pupuk hayati ini layak dianjurkan sebagai sebagai komponen peningkatan produktivitas padi ratoon di lahan pasang surut.  Aplikasi ekstrak kompos juga layak secara ekonomis karena hanya membutuhkan biaya Rp.300.000,- per hektar (pembuatan ekstrak kompos Rp.180.000, tenaga penyemprotan Rp.100.000, dan penyusutan alat semprot Rp.20.000,-). Tidak hanya efektif meningkatkan hasil dan efisien dalam hal biaya, aplikasi ekstrak kompos juga cenderung menekan insidensi penyakit blas.

Peningkatan hasil padi ratoon setelah diaplikasi ekstrak kompos diduga disebabkan oleh aktivitas bermanfaat dari mikroba fungsional yang aktifitas enzimatik dan populasinya meningkat setelah difermentasi. Peningkatan hasil padi ratoon ini belum pernah dilaporkan sebelumnya, sehingga temuan ini layak untuk dipublikasikan dan disosialisasikan secara meluas terutama ke petani padi pasang surut.

Peningkatan hasil yang signifikan (P<0,05) setelah aplikasi ekstrak kompos juga secara konsisten dibuktikan dari percobaan pot. Dibandingkan dengan Varietas Inpari 10, pertumbuhan dan produksi Varietas Ciherang cenderung lebih responsif terhadap aplikasi pupuk hayati.

Lahan sawah pada penelitian ini tergolong ke dalam lahan sulfat masam, karena terlalu masam (pH < 4,5) serta tingginya kandungan alumunium (Al-dd > 1cmol/kg) dan pirit (0.16%). Keracunan alumunium dan besi serta kahat hara merupakan kendala utama budidaya padi akibat rendahnya pH di lahan sulfat masam [6]. Kadar alumunium pada tanah percobaan ini telah dapat menyebabkan keracunan pada tanaman padi [1].  Meskipun aplikasi pupuk hayati tidak signifikan (P ≥ 0,05) memperbaiki sifat kimia tanah sawah padi gadu, tetapi terdapat kecenderungan terjadi peningkatan kandungan K dan penurunan kandungan Alumunium.  Pada percobaan dalam pot, serapan K meningkatkan signifikan setelah diaplikasi pupuk hayati. Peningkatan serapan K dapat terjadi setelah aplikasi pupuk hayati yang mengandung rizobia [2] ataupun setelah aplikasi bahan organik [5].

 

Kesimpulan

Hasil gabah padi ratoon pada tanah sulfat masam di lahan pasang surut Kabupaten Banyuasin dapat ditingkatkan sampai 67% setelah sekali disemprot pupuk hayati dalam sediaan ekstrak kompos. Aplikasi ekstrak kompos juga secara signifikan meningkatkan pertumbuhan, produksi, dan serapan K serta menekan keparahan hawar bulir pada padi yang ditanam di tanah sulfat masam dalam pot.

 

Daftar Pustaka

[1]   Amberger, A., (2006), Soil Fertility and Plant Nutrition in the Tropics and subtropics. International Fertilizer Industry Association and International Potash Institute, Paris. France.

[2]   Biswas, J.C., Ladha, J.K. and Dazzo, F.B., (2000), Rhizobia Inoculation Improves Nutrient Uptake and Growth of Lowland Rice, Soil Science Society of America Journal Vol. 64, pp 16441650.

[3]   Gupta, P., Samant, K., and Sahu, A., (2012), Isolation of cellulose-degrading bacteria and determination of their cellulolytic potential, International Journal of Microbiology Volume 2012 5 page. Doi:10.1155/2012/578925. Online. Http://www.hindawi.com/ journals/ijmb/2012/578925/.

[4]   Irsan, C., Suwandi, Herlinda, S., dan Muslim, A., (2010), Klinik tanaman HPT Unsri: Mitra pemacu laba agrisbisnis. Laporan IbIKK, Lembaga Penelitian Universitas Sriwijaya.

[5]   Masulili, A., Utomo, W.H., and Syechfani, M.S., (2010), The Characteristics of Rice Husk Biochar and Its Influence on the Properties of Acid Sulfate Soils and Rice Growth in West Kalimantan, Indonesia, Jurnal of Agricultural Science Vol. 2, pp 39‒47.

[6]   Muhrizal, S., Shamshuddin J., Fauziah, I. and Husni,  M.A.H., (2006), Changes in iron-poor acid sulfate soil upon submergence, Geoderma Vol.131, 110–122.

[7]   Nautiyal, C.S., Bhadauria, S., Kumar, P., Lal, H., and Verma, M.D., (2000), Stress induced phosphate solubilization in bacteria isolated from alkaline soils, FEMS Microbiology Letter Vol. 182 pp. 291–296.

[8]   Noehan, S.R., (2003), Rehabilitasi sawah rawa pasang surut sulfat masam aktual dengan pemberian amelioran, saluran cacing dan empat varietas padi (Oryza sativa L.), Disertasi pada Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

[9]   Noor, M., Maas, A., dan Notohadikusumo, T., (2005), Pengaruh pelindian dan ameliorasi  terhadap pertumbuhan padi (Oryza sativa)  di tanah sulfat masam Kalimantan, Jurnal Tanah dan Lingkungan Vol. 5 pp. 38‒54.

[10]   Panhwar, Q.A., Radziah, O., Zaharah, A.R., Sariah, M., Razi, I.M. 2011. Role of phosphate solubilizing bacteria on rock phosphate solubility and growth of aerobic rice. Journal of Environmental Biology Vol. 32 pp. 607‒612.

[11]   Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dan Pemerintah Kabupaten Banyuasin. 2010. Selayang pandang kota mandiri terpadu (KTM) Telang Kabupaten Banyuasin Provinsi Sumatera  Selatan. Http://www.pusdatarawa.or.id/ wp-content/uploads/2010/01/ KTMTelang.pdf.

[12]   Razie, F., and Anas, I.,  (2008),  Effect of Azotobacter and Azospirillum on growth and yield of rice grown on tidal swamp rice field in South Kalimantan, Jurnal Tanah dan Lingkungan Vol. 10 pp 41–45.

[13]   Suwandi, (2006), Produksi dan formulasi ekstrak kompos kulit udang sebagai biopestisida pengendali penyakit tanaman, Publikasi paten nomor 046.2050.A Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual, Departemen Hukum dan Hak Asasi Manuasia, Jakarta.

[14]   Vaidya, R.J., Macmil, S.L.A., Vyas, P.R. and Chhatpar, H.S., (2003), The novel method for isolating chitinolytic bacteria and its application in screening for hyperchitinase producing mutant of Alcaligenes xylosoxydans, Letters in Applied Microbiology Vol. 36 pp. 129–134.