KARAKTERISASI FENOTIP DAN PEWARISAN SIFAT KETAHANAN TERHADAP PENYAKIT POWDERY MILDEW PADA TANAMAN MELON (Cucumis melo L.) VAR. TACAPA HASIL PEMULIAAN TANAMAN

Ganies Riza Aristya1) dan Budi Setiadi Daryono1)

Laboratorium Genetika, Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada

Jl. Teknika Selatan Sekip Utara Yogyakarta 55281

e-Mail : ganies_riza@ugm.ac.id

 

ABSTRAK

Tanaman melon (Cucumis melo L.) adalah salah satu anggota familia Cucurbitaceae. Tanaman ini merupakan tanaman hortikultura yang semakin banyak dibudidayakan di Indonesia karena dapat dikonsumsi sebagai buah yang memiliki rasa segar dan manis serta bergizi tinggi. Berbagai macam kultivar melon dibudidayakan di Indonesia mendorong para pemulia tanaman untuk meningkatkan varietas tanaman dengan beberapa teknik konvensional maupun modern. Salah satu tujuan pemuliaan tanaman untuk menciptakan buah melon yang tidak hanya kaya rasa dan bernilai gizi tinggi juga tahan terhadap beberapa macam penyakit. Pada tahun 2008, telah dilakukan penyilangan antara kultivar PI 371795 dan Action 434 menghasilkan F1 dan kemudian di testcross yang menghasilkan melon untuk diproyeksikan sebagai kultivar yang tahan terhadap penyakit jamur tepung. Melon hasil testcross yang dinamakan Tacapa ini mempunyai gen ketahanan terhadap jamur tepung. Melon Tacapa ini juga menunjukkan karakter fenotip buah yang baik dan sedang dikembangkan untuk menjadi melon komersial. Karakter fenotip yang dimiliki antara lain bentuk buah elliptical, warna kulit buah hijau, warna daging buah hijau kekuningan, net/jaring jelas dan kuat, dan memiliki rasa manis, sehingga dapat dikembangkan sebagai komoditi melon unggulan. Tetapi untuk pengembangannya sebagai benih melon unggul, diperlukan upaya seleksi dan pemurnian serta uji ketahanan terhadap serangan jamur tepung. Tujuan penelitian ini dalah untuk menganalisis karakterisasi buah melon Tacapa yang unggul dan bagaimana pewarisan sifat ketahanan melon Tacapa terhadap penyakit jamur tepung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji ketahanan, pemurnian dan kestabilan keberhasilan karakter morfologi dan agronomi yang unggul meliputi; kestabilan dan keseragaman bentuk dan berat buah tiap tanaman, produksi buah per hektar, serta ketahanan tanaman terhadap penyakit jamur tepung. Pada akhir penelitian ini diperoleh benih melon Tacapa yang unggul yang tahan terhadap jamur tepung serta mempunyai karakter morfologi dan agronomi unggul, seragam dan stabil sehingga dapat disertifikasi dan diproduksi sebagai benih melon komersial.

Kata kunci: tahan penyakit, karakter fenotip unggul, kultivar melon Tacapa

 

 


Pendahuluan

Budidaya tanaman melon (Cucumis melo L.) membutuhkan perawatan yang optimal dan kondisi lingkungan yang tepat, karena tanaman melon rentan terhadap infeksi hama dan penyakit. Hama dan penyakit ini dapat bersumber dari udara, binatang atau pengaruh faktor lingkungan lain yang sangat merugikan bagi peningkatan produksi tanaman. Dalam peningkatan mutu produksi melon, faktor yang sangat sulit untuk dihilangkan adalah infeksi jamur dan patogen yang lain [6]. Powdery mildew merupakan salah satu penyakit yang menyerang tanaman melon yang disebabkan oleh infeksi jamur dari ordo Erysiphales diantaranya dari genus Erysiphe dan Sphaerotheca [4]. Powdery mildew yang sering ditemukan adalah dari jenis Podosphaera xanthii. Salah satu upaya pengendalian powdery mildew adalah penggunaan fungisida. Namun penggunaan fungsida membahayakan lingkungan serta kesehatan masyarakat, karena senyawa kimia yang terkandung didalamnya selain itu jika penggunaan fungisida tidak terkontrol maka menyebabkan isolat menyebab penyakit powdery mildew tersebut resisten terhadap fungsida. Kekebalan ini muncul akibat proses adaptasinya terhadap senyawa aktif yang terkandung dalam fungsida. Hal ini menyebabkan pemakaian fungsida menjadi tidak efektif dan efisien. Di dalam Teknologi pemuliaan tanaman secara konvensional (hibridisasi) telah terbukti berhasil meningkatkan produksi tanaman dan mampu memenuhi pangan penduduk bumi saat ini. Tanaman melon Tacapa merupakan keturunan dari jalur persilangan dengan induk PI 371795. Pada jalur persilangan tersebut melon PI 371795 dijadikan induk betina dan disilangkan dengan induk jantan Action 434. Melon PI 371795 memiliki sifat tahan terhadap powdery mildew sedangkan melon Action 434 tidak tahan terhadap powdery mildew, akan tetapi memiliki keistimewaan yaitu daging buah yang manis, warna hijau kekuningan, merupakan buah favorit yang dibudidayakan masyarakat di daerah Jawa dan sekitarnya dan aroma buah yang sangat harum. Kedua tanaman ini dipilih berdasarkan hasil skrining sifat ketahanan terhadap powdery mildew  dari sebelas tanaman melon yaitu:  Andes, PMR 45, WMR 29, PMR 5, MR 1, PMAR 5, Action 434, Sunrise, PI 414723, PI 124112, dan PI 371795. Tanaman melon Tacapa diperoleh dengan menyilangkan secara testcross keturunan F1 PI 371795 dengan induk Action 434 [1]; [5].

Tanaman melon Tacapa dipilih sebagai bahan penelitian karena memiliki beberapa keunggulan yaitu hibrid dari tanaman ini memiliki sifat tahan terhadap terhadap powdery mildew yang diatur oleh gen dominan tunggal. Hal ini merupakan keunggulan bila dibandingkan dengan tanaman melon dari jalur persilangan dengan induk Action 434. Sifat ketahanan terhadap powdery mildew pada tanaman melon dengan induk Action 434 diatur oleh oligogen sehingga pola pewarisannya lebih kompleks dan lebih sulit untuk dipelajari. Keunggulan lain adalah dari segi kualitas buahnya, Tacapa memiliki buah dengan kulit tebal, daging buah manis, buah tidak mudah pecah, dan memiliki daya simpan yang lebih lama. Buah melon Tacapa juga telah dibandingkan dengan melon komersial yang tahan terhadap powdery mildew. Hasil penelitian menunjukkan bahwa buah melon Tacapa memiliki berat, kandungan vitamin C dan % brix yang lebih tinggi dibandingkan dengan 4 varietas komersial pembandingnya yaitu Sumo, Angel, Monami Red, dan DA013 STAR. Dengan demikian, melon Tacapa inilah yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi varietas yang tahan terhadap powdery mildew dan dipilih sebagai bahan dalam penelitian ini [3]. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis karakter buah melon Tacapa yang unggul dan bagaimana pewarisan sifat ketahanan melon Tacapa terhadap penyakit powdery mildew.

Metodologi Penelitian

Bahan

Bahan-bahan yang diperlukan antara lain biji melon Tacapa, benih melon PI 371795, melon Action 434, air kran, tanah berhumus, insektisida (Furadan), fungisida (Antrakol), pupuk daun (Gandasil D), pupuk buah (Gandasil B), pupuk ponska, dan pupuk kompos (pupuk organik).

Alat

Peralatan yang digunakan anatara lain nampan plastik, pinset, inkubator sederhana dengan lampu TL, kain handuk, busa, cuter, penggaris, spidol, gunting, polybag berdiameter 8 cm, batu zeolit, bak larutan pupuk, ember, mulsa plastik, tali plastik, tali rafia, corong gelas, gelas ukur, timbangan, kayu pengaduk, alat penyemprot insektisida dan blower.

Cara kerja

1.  Uji pemurnian dan karakter buah melon di greenhouse dan lahan budidaya

Uji pemurninan benih melon Tacapa dilakukan di greenhouse dan untuk uji karakter fenotip dilakukan di lahan budidaya tanaman melon milik Universitas Gadjah Mada yaitu di Kebun Pendidikan, Penelitian dan Pengembangan Pertanian (KP-4) di Berbah Sleman Yogyakarta. Pada awalnya dilkaukan penyemaian benih melon benih melon Tacapa. Sementara itu, juga dilakukan pembuatan media tanaman dalam ember untuk digunakan di greenhouse dan pengolahan lahan untuk penanaman dilahan budidaya yaiut dengan pembuatan bedengan. Selanjutnya dilkakukan penanaman benih melon di greenhouse dan secara rutin dilakukan perawatan dan pemeliharaan serta pengamatan ketahanan penyakit

2.  Inokulasi powdery mildew dan skoring

Inokulasi dilakukan setelah tanaman melon pada media tanam di dalam ember mempunyai daun berjumlah 5 atau 6 serta berumur kurang lebih 4 minggu. Inokulasi dilakukan dengan cara mengusapkan daun tanaman melon yang terinfeksi powdery mildew dari isolat desa Srigading, Kabupaten Bantul pada daun tanaman melon di greenhouse. Daun yang telah diinokulasi tersebut kemudian dihitung tingkat infeksinya selama 8 kali pengamatan (skoring). Pengamatan (skoring) dilakukan setiap 3 (tiga) hari sekali dalam rentang waktu 4 minggu setelah inokulasi. Skoring dilakukan dengan menggunakan grid line yang terbuat dari kertas mika berukurang 10 cm x 10 cm. Pada kertas mika tersebut dibuat kotak-kotak kecil berukuran 0,5 cm x 0,5 cm [2]. Skoring dilakukan dengan cara menempelkan grid line pada daun yang terinfeksi powdery mildew. Kemudian dihitung persentase infeksi pada daun, tingkat infeksi pada satu tanaman dan tingkat infeksi pada satu populasi dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Tingkat infeksi pada 1 tanaman = Jumlah infeksi pada masing-masing daun  x  100 %

                   Jumlah daun dalam 1 tanaman

Tingkat infeksi pada 1 populasi = Jumlah infeksi pada masing-masing tanaman x100%

 Jumlah tanaman dalam 1populasi

 

Tabel 1. Enam skala infeksi untuk uji sifat ketahanan tanaman melon terhadap powdery mildew [2].

Skala infeksi

Gejala

0

1

2

3

4

5

Tidak bergejala

1% - 10% luas daun bergejala

11% - 30% luas daun bergejala

31% - 50% luas daun bergejala

51% - 80% luas daun bergejala

81% - 100% luas daun bergejala

 

Setelah itu, ditentukan indeks skor untuk tingkat infeksi pada masing-masing populasi dengan ketentuan sesuai Tabel 1.

3.  Analisis Data

Setelah pemanenan buah dari greenhouse dan lahan budidaya selanjutnya dilakukan pengambilan data dengan mendiskripsikan berdasarkan karakter fenotip dengan acuan pembanding dari manual berjudul ‘’Minimum descriptors for Cucurbita spp., cucumber, melon and watermelon”. Buku manual ini disusun oleh European Cooperative Programme for crop genetic resources Networks (ECPGR). Karakter fenotip yang diamati adalah bentuk utuh buah, bentuk irisan, warna kulit, kerapatan net, alur net, bentuk rongga, warna utama daging buah, tingkat kemasakan, tekstur daging, rasa, aroma, daya simpan, warna biji dan bentuk biji. Sementara itu, data karakter kuantitatif fenotip buah melon yang diukur adalah berat buah, keliling buah, diameter horizontal, diameter vertikal, ketebalan kulit, tebal daging, jumlah biji per buah dan ukuran panjang biji.

Hasil dan Pembahasan

A.  Uji Pemurninan dan Karakter Fenotip Buah Melon Tacapa di Greenhouse dan Lahan Budidaya Melon

Uji pemurnian benih melon Tacapa dan uji karakter fenotip buah melon dilakukan untuk mengetahui kestabilan karakter morfologi dan agronomi yang meliputi kestabilan dan keseragaman bentuk dan berat buah tiap tanaman, produksi buah per hektar, serta ketahanan tanaman terhadap penyakit powdery mildew. Data karakter agronomi yang diamati paska pemanenan buah melon Tacapa di greenhouse dan lahan budidaya adalah dengan mendiskripsikan bentuk utuh buah, bentuk irisan, warna kulit, kerapatan net, alur net, bentuk rongga, warna utama daging buah, tingkat kemasakan, tekstur daging, rasa, aroma, daya simpan, warna biji dan bentuk biji. Sementara itu, data karakter kuantitatif fenotip buah melon yang diukur adalah berat buah, keliling buah, diameter horizontal, diameter vertikal, ketebalan kulit, tebal daging, jumlah biji per buah dan ukuran panjang biji. Uji kestabilan fenotip pada buah melon/pemurnian buah dilakukan di greenhouse KP4 menggunakan 3 blok dan masing blok 5 ulangan. Hasil kestabilan buah Tacapa ditunjukkan pada Gambar 1 dan data hasil pengukuran karakter fenotip pada buah melon Tacapa ditunjukkan pada Tabel 2.

Description: E:\PROYEKS\SINAS\Foto melon Andika-Seminar\blok A B C\TCP B (3).JPG

Gambar 1. Buah melon Tacapa hasil pemurniah buah di greenhouse

 

Lahan budidaya melon yang digunakan adalah di blok 1 petak D-2 milik KP 4 UGM. Hasil pengukuran karakter fenotip disajikan pada Tabel 2. Berdasarkan Tabel 2 dan 3 tersebut dapat diketahui bahwa dalam tiap blok baik itu di greenhouse maupun di lahan menunjukkan hasil yang seragam baik dilihat dari karakter kuantitatif maupun karakter kualitatif. Pada penanaman di greenhouse dan lahan masih terdapat segregasi yang masih mengalami infeksi serangan dari penyakit powdery mildew. Akan tetapi sudah banyak tanaman yang tahan terhadap infeksi powdery mildew, hal ini ditunjukkan dengan berat buah yang optimal rata–rata mencapai 2-3 kg, warna utama daging buah hijau kekuningan (Gambar 2) dan rasa serta aroma yang manis dan menyegarkan (Tabel 3).

 

Description: E:\PROYEKS\SINAS\Foto melon Andika-Seminar\CIMG4092.JPG

Gambar 2. Hasil pemurnian buah melon Tacapa di lahan budidaya

 

B.  Inokulasi powdery mildew ke tanaman melon

Inokulasi dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui tingkat ketahanan tanaman melon Tacapa terhadap infeksi powdery mildew. Inokulasi powdery mildew ini dilakukan setelah umur tanaman melon sekitar 4 minggu setelah tanam. Inokulasi dilakukan mulai pada daun yang paling bawah atau daun yang paling tua. Inokulasi juga dilakukan pada daun tanaman melon PI 371795 yang diketahui bahwa melon ini tahan terhadap infeksi powdery mildew (kontroll positif) dan daun tanaman melon Action 434 sebagai kontrol negatif. Dari Gambar 3 diketahui bahwa pada pengamatan infeksi powdery mildew, tanaman melon Tacapa ada yang menunjukkan respon tahan dan tidak tahan terhadap powdery mildew.

B

 

A

 
Description: D:\Ristek melon\foto kp4\PI 5\IMG_1958.JPGDescription: IMG_0629

C

 
Description: IMG_0751

Gambar 3. Hasil inokulasi isolat powdery mildew pada daun tanaman melon. (Ket. A : PI 371795, B : Action 434 dan C : Tacapa)

 

Hal ini diduga disebabkan karena masih terdapat segregasi pewarisan sifat ketahanan dari tetua ke anaknnya, sehingga gen ketahanan jamur tepung belum sepenuhnya diwariskan kepada melon Tacapa. Sehingga diperlukan lagi perakitan ulang antara induk PI 371795 dengan Action 4343 yang selanjutnya dilakukan perkawinan testcross antara hasil F1 dengan induk Action 434. Sementara itu, hasil inokulasi yang dilakukan pada induk PI 371795 menunjukkan hasil bahwa tanaman tersebut tahan terhadap serangan penyakit powdery mildew (kontrol positif). Hasil inokulasi yang dilakukan pada melon Action 434 menunjukkan bahwa tanaman action 434 tidak tahan terhadap serangan powdery mildew (kontrol negatif).

C.     Skoring infeksi powdery mildew pada daun melon

Pengamatan untuk infeksi powdery mildew dilakukan setiap 3 hari sekali setelah tanaman melon indikator (Tacapa, PI 371795 dan Action 434) tersebut diinokulasi inokulat powdery mildew dari Bantul. Data yang diukur adalah tingkat infeksi daun tanaman melon, tingkat infeksi tanaman melon dan tingkat infeksi populasi tanaman melon. Dari data tersebut dapat diamati (Gambar 4, 5 dan 6) bahwa untuk melon Tacapa masih terdapat infeksi jamur tepung powdery mildew. Hal ini dapat dibandingkan dengan tanaman indikator yang bersifat negatif yaitu Action 434. Sedangkan PI 371795 menunjukkan semua tanaman tahan terhadap serangan powdery mildew (positif).

Kesimpulan

Tanaman melon Tacapa telah menunjukkan keunggulan pada aspek ekonomis dan agronomis serta tahan terhadap penyakit powdery mildew. Akan tetapi masih diperlukan perakitan tanaman untuk menjadikan varietas melon Tacapa lebih unggul sehingga dapat bersaing dengan melon hasil hibrida di industri benih nasional.

Ucapan Terimakasih

            Ucapan terimakasih kami sampaikan kepada seluruh tim peneliti yang telah membantu tercapainya kegiatan penelitin ini, kepada Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc. dan Petani binaan di KP4, Magetan dan Purwokerto. Ucapan terimakasih juga kami sampaikan kepada Kementrian Riset dan Teknologi Republik Indonesia (kode penelitian :  RT-2012-301) atas dukungan dana dan kesempatan yang telah diberikan.

 

Daftar Pustaka

[1] Aristya, G. R. And Daryono, B.S. 2008. Identification and Screening for Resistance to Powdery mildew in melons (Cucumis melo L.). International Seminat Plant Pathology.

[2] Fukino, N., Kunihisa, M. and Matsumoto, S. 2004. Characterization of rekombinant inbred lines derived from crosses in Melon (Cucumis melo L.), ‘PMAR No. 5’ x ‘Harukei No. 3’. Breeding Sciense 54:141-145.

[3] Iswandari, A. 2009. Perbandingan Morfologi dan Pertumbuhan Antara Tanaman Melon (Cucumis melo L.) Hasil Test Cross dengan Varietas Tahan Powdery Mildew dengan dan Tanpa Fungisida. Skripsi. Fakultas Biologi. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta

[4] Kuzuya, M., Yashiro, K.,  Tomita, K., and Ezura, H. 2006. Powdery mildew (Podosphaera xantii) resistance in melon is categorized into two types based on inhibition of the infection processes. Journal of Experimental Botany, 57 (9):2093-2100.

[5] Qurrohaman, T., & Daryono, B.S. 2009. Pewarisan Sifat Ketahanan Tanaman Melon (Cucumis melo L.) Terhadap Powdery mildew (Podosphaera xanthii (Castag.) Braun et Shishkoff). Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia, Vol. 15 : 1, 1-6.

[6] Simpson, B. B. and Ogorzaly. 2001. Economic botany, plants in our world. McGrow-Hill Higher Education, New York. p : 82-85.

 

 


Tabel 2. Karakter fenotip buah melon Tacapa hasil pemurniah buah di greenhouse

No

Karakter

Rerata Blok A

Rerata Blok B

Rerata Blok C

Rerata Blok

Buah

1

Bentuk utuh

globuler

globuler

globuler

globuler

2

Bentuk irisan

globuler

globuler

globuler

globuler

3

Warna kulit

hijau

hijau

hijau-krem

hijau

4

Kerapatan net

renggang

rapat

renggang

renggang

5

Alur net

horizontal

horizontal

horizontal

horizontal

6

Berat (g)

186

150

120

152,00

7

Keliling (cm)

23,9

22,52

21,2

22,54

8

D- horizontal (cm)

13,5

13

11,3

12,60

9

D-vertikal (cm)

13,1

11,74

8,2

11,01

10

Ketebalan kulit (cm)

0,1

0,1

0,1

0,10

11

Tebal daging (cm)

2,28

2,12

1,88

2,09

12

Bentuk rongga

rounded

rounded

ellipse

rounded

13

Warna utama daging

hijau

hijau

hijau

hijau

14

kemasakan

masak

masak

masak

masak

15

Tekstur daging

2,4

2

2

2,13

16

Rasa

2,2

2,4

1,8

2,13

17

Aroma

harum manis

harum manis

harum manis

harum manis

18

Daya simpan buah (hari)

12

12

12

12,00

Biji

 

19

jumlah biji per buah (biji vital)

106,4

123,6

95,6

108,53

20

Warna biji

krem

krem

krem

krem

21

Bentuk biji

ellipse

ellipse

ellipse

ellipse

22

Ukuran panjang biji (cm)

0,75

0,753

0,7302

0,74

23

Ukuran tebal biji (cm)

0,136

0,1436

0,142

0,14

24

Bobot 100 biji (gr)

1,3

1,414

1,52

1,41

 

 

Tabel 3. Hasil pengukuran karakter fenotip buah melon Tacapa di lahan budidaya

No

Karakter

Blok

A

B

C

D

E

F

G

H

Rerata 

Buah

1

Bentuk utuh

Elliptical

Elliptical

Elliptical

Elliptical

Elliptical

Elliptical

Elliptical

Elliptical

Elliptical

2

Bentuk irisan

Elliptical

Elliptical

Elliptical

Elliptical

Elliptical

Elliptical

Elliptical

Elliptical

Elliptical

3

Warna kulit

hijau muda

hijau muda

hijau muda

hijau muda

hijau tua

hijau muda

hijau muda

hijau muda

hijau muda

4

Kerapatan net

rapat

rapat

rapat

Rapat

rapat

rapat

rapat

rapat

rapat

5

Alur net

horizontal

horizontal

horizontal

horizontal

horizontal

horizontal

horizontal

horizontal

horizontal

6

Berat (g)

35069,00

44290,00

2820,33

2786,67

2410,00

37480,00

2455,33

34680,00

20248,92

7

Keliling (cm)

750,40

803,00

52,59

51,43

49,57

50,75

49,75

750,40

319,74

8

D- horizontal (cm)

233,30

251,80

16,35

15,92

15,33

237,50

15,41

232,50

127,27

9

D-vertikal (cm)

266,60

291,50

19,40

19,52

18,80

18,63

18,57

261,70

114,34

10

Ketebalan kulit (cm)

3,40

3,30

0,23

0,25

0,24

3,60

0,28

3,30

1,82

11

Tebal daging (cm)

69,40

77,80

4,93

4,93

4,51

4,56

4,83

67,50

29,81

12

Bentuk rongga

0,00

Elliptical

Elliptical

Elliptical

Elliptical

Elliptical

Elliptical

Elliptical

Elliptical

13

Warna utama daging

0,00

hijau kuning

hijau kuning

hijau kuning

hijau kuning

hijau kuning

hijau kuning

hijau kuning

hijau kuning

14

kemasakan

0,00

masak

masak

Masak

masak

masak

masak

masak

masak

15

Tekstur daging

29,00

31,00

2,07

1,87

1,93

2,40

1,73

31,00

12,63

16

Rasa

24,00

19,00

1,27

1,40

1,33

26,00

1,20

20,00

11,78

17

Aroma

harum manis

harum manis

harum manis

harum manis

harum manis

harum manis

harum manis

harum manis

harum manis

18

Daya simpan buah (hari)

315,00

315,00

21,00

21,00

21

315,00

21,00

315,00

168,00

Biji

19

jumlah biji per buah (biji vital)

7701,00

6758,00

424,47

375,77

597,44

8071,00

488,53

7286,00

3962,78

20

warna biji

krem

krem

krem

Krem

krem

krem

krem

krem

krem

21

Bentuk biji

ellipse

ellipse

ellipse

Ellipse

ellipse

ellipse

ellipse

ellipse

ellipse

22

Ukuran panjang biji (cm)

13,14

13,68

0,84

0,85

0,86

0,92

0,86

22,27

6,68

23

Ukuran tebal biji (cm)

2,32

2,47

0,17

0,16

0,17

2,47

0,16

2,47

1,30

24

bobot 100 biji (gr)

37,52

35,60

2,33

2,32

2,43

2,57

2,34

34,30

14,93


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

(a)

(b)

(c )

Gambar 4. Tingkat infeksi daun tanaman melon terhadap serangan powdery mildew

(a)

(b)

(c )

Gambar 5. Tingkat infeksi tanaman melon terhadap serangan powdery mildew

 

 

 

 

Gambar 6. Tingkat infeksi populasi tanaman melon terhadap serangan powdery mildew